Di
Indonesia, terdapat beragam suku bangsa. Keberagaman tersebut menciptakan
kebudayaan yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya, yang kemudian
dikenal dengan nama kebudayaan lokal yang kemudian menyatu menjadi kebudayaan
nasional. Salah satu suku bangsa yang ada di Indonesia yaitu suku bangsa Sasak
dengan beragam keunikan, nilai-nilai kearifan lokal yang tinggi, dan ciri khas
yang ada.
Sejak
zaman dahulu, kearifan lokal suku bangsa Sasak mengandung nilai-nilai yang
sangat luhur dalam sistem kehidupan bermasyarakat. Selain itu, memiliki
relevansi dan makna yang dapat dijadikan sebagai roh dan nilai-nilai baru di
zaman modern ini. Namun dewasa ini, nilai-nilai yang telah diwariskan oleh
leluhur suku bangsa Sasak itu telah mengalami pergeseran, mengalami kelunturan,
dan seakan-akan kehilangan makna sesungguhnya dari nila-nilai yang sudah ada
sebelumnya. kelunturan nilai-nilai itu terjadi karena adanya pengaruh kemajuan
zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi atau pengaruh dari globalisasi serta laju
pembangunan yang tidak didasarkan atas budaya masyarakat setempat. Oleh karena
itu, generasi penerus suku bangsa Sasak dewasa ini tidak lagi sepenuhnya mempedomani nilai-nilai tersebut. Bahkan ada
kecenderungan untuk ditinggalkan.
Keadaan
yang menghawatirkan itu menuntut adanya upaya untuk menerapkan nilai-nilai
luhur tersebut dalam kehidupan masyarakat Sasak, sehingga generasi muda tidak
tercerabut dari akar budayanya sendiri. Oleh sebab itu, lahirlah “Piagam Gumi
Sasak”. Berdasarkan
wawancara dari Bapak Murahim S. Pd., M. Pd. awalnya Piagam Gumi Sasak diberi nama
“Manifestasi Kebudayaan Sasak,” tetapi kata manifestasi kebudayaan dirasa tidak
cocok untuk masyarakat Sasak. Lahirnya Piagam Gumi Sasak memberi semangat baru
bagi generasi muda Sasak untuk memperbaiki sejarah Sasak yang telah
diobrak-abrik oleh kepentingan penguasa dan kebudayaan yang sudah melenceng
dari arah yang sebenarnya. Berikut isi dari Piagam Gumi Sasak.
Piagam
Gumi Sasak
Bismillahirrahmanirrahim
Menjadi
bangsa Sasak adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT
dan generasi mendatang. Menunaikan amanah Sasak itu sejatinya merupakan mata
rantai sejarah kemanusiaan melalui simbol-simbol yang diletakkan dalam
pemikiran bangsa Sasak yang terhampar dari gumi paer. Simbol-simbol itu
merupakan tanda-tanda yang terbaca yang membawa kembali menuju jati dirinya
yang sebenarnya.
Perjalanan
sejarah bangsa Sasak diwarnai oleh hikmah yang tertuang dalam berbagai bencana
yang menenggelamkan, mengaburkan, dan menistakan keluhuran budaya Sasak.
Berbagai catatan penekanan, pendangkalan makna, pengaburan jati diri, sampai
pembohongan sejarah dengan berbagai kepentingan para penguasa yang berlangsung
hingga saat ini. Beralih pencitraan budaya dan sejarah bangsa yang ditulis
dengan perspektif dan kepentingan kolonialisme dan imperialisme modern. Hal itu
telah membuat bangsa ini menjadi bangsa imperior yang tak mampu tegak diantara
bangsa-bangsa lain dalam rangka menegakkan amanah kefitrahannya sebagai sebuah
bangsa. Sadar akan hal tersebut kami anak-anak bangsa Sasak mengumumkan Piagam
Gumi Sasak sebagai berikut.
1.
Berjuang bersama menggali dan menegakkan
jati diri bangsa Sasak demi kedaulatan dan kehormatan bangsa Sasak.
2.
Berjuang bersama memelihara, menjaga,
dan mengembangkan khazanah intelektual bangsa Sasak agar terpelihara kemurnian
kebenaran, kepatutan, dan keindahannya sesuai dengan roh budaya Sasak.
3.
Berjuang bersama menegakkan harkat dan
martabat bangsa Sasak melalui karya-karya kebudayaan yang membawa bangsa Sasak
menjadi bangsa yang maju dengan menjunjung tinggi nilai-nilai religiusitas dan
tradisionalitas.
4. Berjuang bersama membangun citra sejati
bangsa Sasak baru dengan kejatidirian
yang kuat untuk menghadapi tantangan peradaban masa depan.
5. Berjuang bersama dalam satu tatanan
masyarakat adat yang egaliter, bersatu dan berwibawa dalam bingkai Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
Semoga Allah SWT
senantiasa memberikan kekuatan serta memberkahi perjalanan bangsa Sasak menuju
kemaslahatan seluruh umat manusia.
Mataram,
14 Mulud tahun Jimawal/1437H
26
Desember 2015.
Ditandatangani bersama
kami,
1.
Drs. Lalu Azhar
2.
Drs. H. Lalu Mujtahid
3.
Drs. Lalu Baiq Windia M. Si
4.
TGH. Ahyar Abduh
5.
Drs. H. Husni Mu’adz MA., Ph. D.
6.
Dr. Muhammad Fadjri, M.A.
7.
Dr. H. Jamaludin M. Ag.
8.
Dr. Lalu Abd. Khalik M.Hum.
9.
Drs. H. A. Muhit Ellepaki, M. Sc.,
10.
Dr. H. Sudirman M. Pd
11.
Dr. HL., Agus Fathurrahman
12.
Mundzirin S.H,
13.
L. Ari Irawan, SE., S.Pd., M. Pd.
Mari
sebagai generasi muda suku Sasak kita bangun citra baru Sasak dengan cara
mempelajari dan memahami kembali kebudayaan Sasak, sejarah Sasak, dan kearifan
lokal Sasak yang mengandung nilai-nilai sangat tinggi agar kita generasi muda
suku Sasak tidak terlalu jauh tercerabut dari akar budaya kita sendiri.

Bagus. Menamah wawasan.
BalasHapusMari lestarikan budaya agar tk terkikis arus zaman.
Salam budaya
Bagus sangat
BalasHapusBagus sangat
BalasHapusSangat bermanfaat sekali
BalasHapusSapu sae
BalasHapusTerbaik
BalasHapusBagus
BalasHapuswaaaaaaaa keren sekali isi piagamnya
BalasHapusIni seperti mahakarya
BalasHapusLuar biasa sekali
BalasHapusMantap
BalasHapusMantap. Menambah wawasan
BalasHapusSmga bermanfaat
BalasHapusPertahankan budaya Sasak!
BalasHapusBudaya yang penuh makna 😊
Bagus, tingkatkan.
BalasHapusBagus, tingkatkan.
BalasHapusbagus sekali, terima kasih atas informasinya.
BalasHapusLuar biasa sangat membangun sekali
BalasHapusMari qta terus kepo dgn budaya qta
BalasHapusMari qta terus kepo dgn budaya qta
BalasHapusBermanfaat
BalasHapus